Apa Itu Deja Vu?
—
Minggu, 03 Mei 2015
—
Psikologi
Oleh: Aimin Embisa
Pernahkah anda merasa pernah
berada di suatu tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya? atau
pernahkah anda merasa pernah melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan
sebelumnya? Dan atau pernahkah anda merasakan pernah merasakan suatu sensasi yang
sepertinya anda pernah merasakan sebelumnya?
Ya, tentu pernah, karena semua
orang pasti pernah mengalaminya...
Itu yang disebut dengan Deja Vu,
yakni suatu peristiwa di mana seseorang merasa yakin bahwa dirinya telah
mengalami situasi baru sebelumnya. Selama mengalami sebuah situasi baru,
seseorang merasakan suatu kesamaan dengan sesuatu yang dialami di masa lalu.
Macam-macam Deja Vu [1]
Deja vu terbaagi menjadi tiga
bagian, yaitu ‘pernah mengalami’, ‘pernah merasakan’, dan ‘pernah mengunjungi’ suatu tempat
sebelumnya.
Deja Vecu: Suatu perasaan bahwasanya segala
sesuatu yang sedang terjadi baru saja itu identik dengan apa yang terjadi
sebelumnya serta satu gagasan tidak wajar tentang apa yang akan terjadi
berikutnya, diterminologikan sebagai Deja vecu. Seseorang yang mengalami
perasaan Deja vecu mengklaim telah mengetahui apa yang sedikit lagi akan
terjadi dan kadang kala merasa telah mengingat hal tersebut.
Deja Senti: Perasaan ini merujuk pada
sesuatu "yang sudah dirasakan". Hal itu merupakan fenomena kejiwaan
dan para peneliti meyakini bahwa sesuatu yang telah dirasakan di masa lalu itu
sangat mirip dengan yang dirasakan saat ini. Kesamaan pada kedua pengalaman
tersebut membuat seseorang merasa bahwa dia telah merasakan hal yang sama di
masa lalu.
Deja Visite: Bentuk Deja vu ini merupakan suatu perasaan pernah
mengunjungi suatu tempat yang benar-benar baru. Seseorang yang mengalami bentuk
Deja vu ini mengklaim memiliki pengetahuan tentang sebuah tempat yang belum
dikunjungi. Seseorang mengklaim mengetahui letak geografi suatu tempat, ketika
dia belum pernah ke sana dalam kenyataannya. Deja visite dicirikhaskan dengan
sebuah pengetahuan tidak wajar tentang suatu tempat yang belum pernah
dikunjungi. Déjà vu tipe ini lebih menitikberatkan pada ingatan seseorang akan
sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya tapi merasa pernah berada
pada lokasi yang sama. Déjà Visité berkaitan dengan tempat atau geografi
Lantas,
Mengapa
Deja Vu Bisa Terjadi?
Oleh Prof. Ahmad Syauqi Ibrahim,
dalam bukunya yang berjudul Misteri Potensi Gaib Manusia. Dalam buku yang
didasarkan atas tinjauan syari’at dan pengetahuan ilmiah itu, dijelaskan bahwa
fenomena deja vu ini erat kaitannya dengan aktifitas ruh. [2]
Seperti diketahui, manusia
terdiri dari akal, jiwa, dan ruh. Saat manusia tidur, ruh keluar dari tubuh
manusia itu. Hal ini dijelaskan dalam hadist berikut :
“Segala puji bagi Allah yang
telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan hanya kepada-Nya kami
kembali.”
Rasulullah saw. menyebut tidur
sebagai kematian karena ketika dalam keadaan tidur tubuh tidak terkandung ruh.
Baru setelah bangun, kemudian ruh itu kembali lagi. Inilah yang disebut
‘kematian kecil’. Adapun saat tertidur, dalam tubuh hanya terkandung jiwanya
saja. Kematian seorang manusia terjadi ketika jiwa dan ruh orang tersebut sudah
tidak terkandung lagi dalam tubuhnya.
Ketika tidur, ruh akan bergerak
meninggalkan tubuh. Walau demikian, ruh masih tetap berhubungan dengannya. Ruh
kemudian akan bergerak menuju alam ruh. Aktifitas inilah yang kemudian
dikaitkan Ahmad Syauqi menjadi penyebab deja vu.
Ahmad Syauqi meyakini ruh manusia
memiliki kemampuan seperti itu. Ruh memiliki kemampuan layaknya cahaya, atau
bahkan mungkin lebih cepat dari cahaya. Hal tersebut dimungkinkan karena ruh
memiliki potensi energi cahaya. Potensi itu salah satunya dibuktikan sekarang
ini sebagai aura tubuh. Aura adalah cahaya yang terlihat melingkari tubuh
manusia. Cahaya ini berbeda dengan sinar yang memancar dari manusia akibat
panas tubuh. Lingkaran cahaya ini dapat menebal atau menipis, tergantung
keadaan psikis orang tersebut.
Karena hal tersebutlah, ruh
kemudian memiliki kemampuan untuk bergerak ke masa lalu ataupun ke masa depan.
Saat kembali ke tubuh, maka pengalaman itu secara tak sadar akan tersimpan
dalam otak, dan kadang-kadang pengalaman tersebut terulang kembali dan
mempengaruhi memori sadar kita.
Dalam dunia psikologi pun
menjelaskan demikian. Deja vu bisa terjadi pada diri seseorang akibat dari
mimpi dimana ia pernah melakukan sesuatu yang kemudian tersimpan di memori dan
pada saat hal semacam itu terjadi sehingga dejavu bisa diartikan semacam suatu
kondisi dimana frekuensi tingkat emosi sama pada situasi yang berbeda. Hal ini
timbul akibat memori atau feel yang telah terekam muncul kembali yang dipicu
oleh kejadian saat itu. Dan inilah yang kita sebut ‘sensasi’. Sehingga kita
merasa seakan pernah mengalaminya.
Sebagian ada yang berpendapat
baha deja vu merupakan ingatan masa lampau atau reinkarnasi. Pernyataan ini
sedikit aneh jika ditinjau secara ilmiah karena semisal kita naik pesawat lalu
merasa pernah naik pesawat sebelumnya sementara di jaman dahulu belum ada
pesaat maka apa itu bisa terjadi?
Professor Muhammad Al Ghazali
melalui kitabnya Jaddik Hayaatak (Perbaharuilah Hidupmu) menyatakan bahawa
tidak ada apa yang baru di dalam hidup ini. Hal itu berarti deja vu yang
terjadi kepada kita adalah deja vu yang nyata dan bukannya ilusi semata-mata.
Jika dikaji tentang kehidupan manusia, semua yang terjadi dalam hidup ini
memang berulang-ulang. Perdamaian, peperangan, keadilan, kezaliman, semua yang
terjadi kepada kita sememangnya satu putaran. [3]
Contoh tentang deja vu ‘pernah
mengunjungi" atau "Deja Visite" . Mungkin ketika kita berumur 2
tahun, orangtua kita pernah membawa kita mengunjungi kebun binatang Ragunan,
Jakarta. Akan tetapi mereka tidak pernah memberitahu kepada kita tentang hal
tersebut. Sang ayah menaikkan kita ke atas gajah sambil memeluk dari belakang
dan kita pun tertawa riang.
Suatu ketika kita telah berumah
tangga, kita pun membawa anak kita ke kebun binatang, entah di Raguanan,
Jakarta atau di Gembira Loka Jogja. Pada saat itu kita melihat gajah lalu
menaikkan anak kita di punggung gajah dan memeluknya dari belakang sambil
tertawa riang. Dan secara tiba-tiba kita merasa bahawa kita pernah mengunjungi
tempat itu sebelumnya dan seakan pernah melakukan hal tersebut. Itulah deja vu
yang logik dan mampu diterima oleh akal.
Berdasarkan bacaan dan mendapat
informasi dari berbagai sumber, saya menyimpulkan bahwasanya deja vu merupakan
sensasi dari ingatan masa lampau yang pernah terjadi sebelumnya dan terekam
oleh memori dan tersimpan di dalam pikiran yang apabila hal tersebut terulang
kembali maka memori tersebut akan mencoba mengingatnya kembali. Dan atau bisa
jadi mimpi yang tak bisa kita ingat namun terekam dalam memori alam bawah sadar
sehingga hal tersebut akan muncul ketika kita mengalami hal yang serupa mimpi
itu. Karena kita ketahui bahwa tidak semua mimpi mampu kita ingat namun terekam
dalam memori bawah sadar kita.
Namun apapun yang saya jelaskan
disini belum tentu benar adanya karena hanya Allah lah yang mengetahui
segalanya. Akan tetapi saya berharap artikel ini bisa menambah wawasan kita
mengenai deja vu...
“Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,
dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun
pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir
biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Luh Mahfudz)" Al-Quran surah Al-An’am ayat 59.
Aiminluv.com
