Tentang Kehidupan

Tentang Kehidupan
"Kita semua akan pergi dan hilang dari bumi, dan yang tersisa hanyalah kenangan. Maka tinggalkanlah jejak kebaikan." ~ Aimin Embisa

Apa Itu Deja Vu?



Oleh: Aimin Embisa

Pernahkah anda merasa pernah berada di suatu tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya? atau pernahkah anda merasa pernah melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan sebelumnya? Dan atau pernahkah anda merasakan pernah merasakan suatu sensasi yang sepertinya anda pernah merasakan sebelumnya?

Ya, tentu pernah, karena semua orang pasti pernah mengalaminya...

Itu yang disebut dengan Deja Vu, yakni suatu peristiwa di mana seseorang merasa yakin bahwa dirinya telah mengalami situasi baru sebelumnya. Selama mengalami sebuah situasi baru, seseorang merasakan suatu kesamaan dengan sesuatu yang dialami di masa lalu. 

 Macam-macam Deja Vu [1]

Deja vu terbaagi menjadi tiga bagian, yaitu ‘pernah mengalami’, ‘pernah merasakan’, dan ‘pernah mengunjungi’ suatu tempat sebelumnya.

Deja Vecu: Suatu perasaan bahwasanya segala sesuatu yang sedang terjadi baru saja itu identik dengan apa yang terjadi sebelumnya serta satu gagasan tidak wajar tentang apa yang akan terjadi berikutnya, diterminologikan sebagai Deja vecu. Seseorang yang mengalami perasaan Deja vecu mengklaim telah mengetahui apa yang sedikit lagi akan terjadi dan kadang kala merasa telah mengingat hal tersebut.

Deja Senti: Perasaan ini merujuk pada sesuatu "yang sudah dirasakan". Hal itu merupakan fenomena kejiwaan dan para peneliti meyakini bahwa sesuatu yang telah dirasakan di masa lalu itu sangat mirip dengan yang dirasakan saat ini. Kesamaan pada kedua pengalaman tersebut membuat seseorang merasa bahwa dia telah merasakan hal yang sama di masa lalu.

Deja Visite: Bentuk  Deja vu ini merupakan suatu perasaan pernah mengunjungi suatu tempat yang benar-benar baru. Seseorang yang mengalami bentuk Deja vu ini mengklaim memiliki pengetahuan tentang sebuah tempat yang belum dikunjungi. Seseorang mengklaim mengetahui letak geografi suatu tempat, ketika dia belum pernah ke sana dalam kenyataannya. Deja visite dicirikhaskan dengan sebuah pengetahuan tidak wajar tentang suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Déjà vu tipe ini lebih menitikberatkan pada ingatan seseorang akan sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya tapi merasa pernah berada pada lokasi yang sama. Déjà Visité berkaitan dengan tempat atau geografi


Lantas,
Mengapa Deja Vu Bisa Terjadi?

Oleh Prof. Ahmad Syauqi Ibrahim, dalam bukunya yang berjudul Misteri Potensi Gaib Manusia. Dalam buku yang didasarkan atas tinjauan syari’at dan pengetahuan ilmiah itu, dijelaskan bahwa fenomena deja vu ini erat kaitannya dengan aktifitas ruh. [2]

Seperti diketahui, manusia terdiri dari akal, jiwa, dan ruh. Saat manusia tidur, ruh keluar dari tubuh manusia itu. Hal ini dijelaskan dalam hadist berikut :

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Dan hanya kepada-Nya kami kembali.”

Rasulullah saw. menyebut tidur sebagai kematian karena ketika dalam keadaan tidur tubuh tidak terkandung ruh. Baru setelah bangun, kemudian ruh itu kembali lagi. Inilah yang disebut ‘kematian kecil’. Adapun saat tertidur, dalam tubuh hanya terkandung jiwanya saja. Kematian seorang manusia terjadi ketika jiwa dan ruh orang tersebut sudah tidak terkandung lagi dalam tubuhnya.

Ketika tidur, ruh akan bergerak meninggalkan tubuh. Walau demikian, ruh masih tetap berhubungan dengannya. Ruh kemudian akan bergerak menuju alam ruh. Aktifitas inilah yang kemudian dikaitkan Ahmad Syauqi menjadi penyebab deja vu.

Ahmad Syauqi meyakini ruh manusia memiliki kemampuan seperti itu. Ruh memiliki kemampuan layaknya cahaya, atau bahkan mungkin lebih cepat dari cahaya. Hal tersebut dimungkinkan karena ruh memiliki potensi energi cahaya. Potensi itu salah satunya dibuktikan sekarang ini sebagai aura tubuh. Aura adalah cahaya yang terlihat melingkari tubuh manusia. Cahaya ini berbeda dengan sinar yang memancar dari manusia akibat panas tubuh. Lingkaran cahaya ini dapat menebal atau menipis, tergantung keadaan psikis orang tersebut.

Karena hal tersebutlah, ruh kemudian memiliki kemampuan untuk bergerak ke masa lalu ataupun ke masa depan. Saat kembali ke tubuh, maka pengalaman itu secara tak sadar akan tersimpan dalam otak, dan kadang-kadang pengalaman tersebut terulang kembali dan mempengaruhi memori sadar kita.

Dalam dunia psikologi pun menjelaskan demikian. Deja vu bisa terjadi pada diri seseorang akibat dari mimpi dimana ia pernah melakukan sesuatu yang kemudian tersimpan di memori dan pada saat hal semacam itu terjadi sehingga dejavu bisa diartikan semacam suatu kondisi dimana frekuensi tingkat emosi sama pada situasi yang berbeda. Hal ini timbul akibat memori atau feel yang telah terekam muncul kembali yang dipicu oleh kejadian saat itu. Dan inilah yang kita sebut ‘sensasi’. Sehingga kita merasa seakan pernah mengalaminya.

Sebagian ada yang berpendapat baha deja vu merupakan ingatan masa lampau atau reinkarnasi. Pernyataan ini sedikit aneh jika ditinjau secara ilmiah karena semisal kita naik pesawat lalu merasa pernah naik pesawat sebelumnya sementara di jaman dahulu belum ada pesaat maka apa itu bisa terjadi?

Professor Muhammad Al Ghazali melalui kitabnya Jaddik Hayaatak (Perbaharuilah Hidupmu) menyatakan bahawa tidak ada apa yang baru di dalam hidup ini. Hal itu berarti deja vu yang terjadi kepada kita adalah deja vu yang nyata dan bukannya ilusi semata-mata. Jika dikaji tentang kehidupan manusia, semua yang terjadi dalam hidup ini memang berulang-ulang. Perdamaian, peperangan, keadilan, kezaliman, semua yang terjadi kepada kita sememangnya satu putaran. [3]

Contoh tentang deja vu ‘pernah mengunjungi" atau "Deja Visite" . Mungkin ketika kita berumur 2 tahun, orangtua kita pernah membawa kita mengunjungi kebun binatang Ragunan, Jakarta. Akan tetapi mereka tidak pernah memberitahu kepada kita tentang hal tersebut. Sang ayah menaikkan kita ke atas gajah sambil memeluk dari belakang dan kita pun tertawa riang.

Suatu ketika kita telah berumah tangga, kita pun membawa anak kita ke kebun binatang, entah di Raguanan, Jakarta atau di Gembira Loka Jogja. Pada saat itu kita melihat gajah lalu menaikkan anak kita di punggung gajah dan memeluknya dari belakang sambil tertawa riang. Dan secara tiba-tiba kita merasa bahawa kita pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya dan seakan pernah melakukan hal tersebut. Itulah deja vu yang logik dan mampu diterima oleh akal.

Berdasarkan bacaan dan mendapat informasi dari berbagai sumber, saya menyimpulkan bahwasanya deja vu merupakan sensasi dari ingatan masa lampau yang pernah terjadi sebelumnya dan terekam oleh memori dan tersimpan di dalam pikiran yang apabila hal tersebut terulang kembali maka memori tersebut akan mencoba mengingatnya kembali. Dan atau bisa jadi mimpi yang tak bisa kita ingat namun terekam dalam memori alam bawah sadar sehingga hal tersebut akan muncul ketika kita mengalami hal yang serupa mimpi itu. Karena kita ketahui bahwa tidak semua mimpi mampu kita ingat namun terekam dalam memori bawah sadar kita.

Namun apapun yang saya jelaskan disini belum tentu benar adanya karena hanya Allah lah yang mengetahui segalanya. Akan tetapi saya berharap artikel ini bisa menambah wawasan kita mengenai deja vu...

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Luh Mahfudz)" Al-Quran surah Al-An’am ayat 59.


Aiminluv.com