Menjadi Kakak adalah Menjadi Tauladan
—
Selasa, 16 September 2014
—
Renungan
Menjadi
kakak adalah menjadi tauladan. Karena kakak adalah pemula sehingga tingkah dan
lakunya harus bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Apalagi menjadi yang
pertama.
Terkadang
bila adik yang salah, tetap saja kakak yang selalu disalahkan.
Terkadang
kakak harus berkorban banyak hal untuk adik-adiknya meski pada akhirnya
pengorbanan Sang Kakak terkadang tidak dianggap oleh Sang Adik. Tetapi kakak
tidak menuntut karena itu sudah menjadi takdir bahwa dia adalah seorang kakak
yang harus melakukan banyak hal untuk adiknya.
Kakak
berkorban banyak hal namun adakalanya adik terlupa bahwa kesuksesannya saat ini
salah satunya berkat dukungan kakak.
Kakak hanya
bertani, ke sawah, ke ladang bekerja dengan pakaian yang kotor. Sedangkan adik
naik mobil/motor ke kantor dengan pakaian rapi hanya memegang pena dan kertas.
Bahakan hanya mengetik di depan komputer. Tapi kakak tetap tersenyum karena itu
adiknya.
Ketika adik
pergi ke kota melanjutkan sekolahnya, kakak hanya di rumah menemani ayah dan
ibu bekerja banting tulang untuk melengkapi kebutuhan adik di kota.
Kakak lebih
terbiasa hidup keras dan disalahkan meski ia diposisi yang benar. Kakak didik
oleh keadaan untuk menjadi yang selalu mengalah. Kakak didik untuk senantiasa
berkorban apapun yang dimilkinya untuk adik dan mengutamakan adik dari dirinya
sendiri.
Bila ibu
pulang dan membawa sesuatu dan kakak dan adik saling berebut, tentu ibu akan
bilang, “Kamu sudah besar, biar buat adik saja,” meskipun usia tidak terpaut
jauh dan rasa kekanak-kanakan masih sama, tetap saja kakak dituntut untuk
selalu mengalah.
Ketika adik
menjatuhkan minuman kakak lalu kakak memarahi adiknya, Ibu akan berkata, “kamu
adik hanya jatuhin minumanmu saja kamu langsung marah, kan bisa diambil lagi.
Kamu itu kakak, seharusnya bisa ambil lagi minumnya di dapur,”
Berbeda
ketika kakak yang menjatuhkan minuman adik lalu adik menangis, Ibu akan
berkata, “kamu ini gimana? Itu minum adik kok dijatuhin? Adik kan jadi nangis.
Di ambil lagi minumnya di dapur lalu ke sini ngasih lagi ke adik,” sembari
menyodorkan gelas ke hadapan kakak ibu meminta kakak ke dapur mengambil kembali
minum untuk adik. Meski dengan wajah kesal, kakak tetap menuruti perintah ibu
untuk ke dapur mengambil minum untuk adiknya.
Karena kakak
adalah pemula maka ia dituntut untuk menjadi contoh. Kakak dituntut untuk bisa
menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Maka jangan pernah mengecewakan kakak,
wahai dikau adik.
Adakalanya
engkau tak paham bahwasanya ketika engkau pergi meninggalkan rumah, kakak di
rumah membantu ayah dan ibumu. Kakak walau sudah besar pun masih tetap
disalahkan dan dimarahi karena dia lebih dekat dengan ibu dan ayah sehingga
rentan berbuat kesalahan sementara engkau yang jauh selalu dirundu oleh mereka
meski engkau mungkin leih banyak berbuat ksalahan yang hanya saja tak nampak
oleh ayah dan ibu.
Untuk itu
mari berkaca pada keadaan. Saling menyayangi antara kakak dan adik adalah
sebuah keharusan. Dan jangan lupa untuk selalu saling mendoakan hingga
dipertemukan kembali di keabadian..
Salam hangat untuk kakak..
Jogja, 22 Juni 2014
Aimien Embisa
Sore hari @Kamar Kos Tercinta
