Tentang Kehidupan

Tentang Kehidupan
"Kita semua akan pergi dan hilang dari bumi, dan yang tersisa hanyalah kenangan. Maka tinggalkanlah jejak kebaikan." ~ Aimin Embisa

Menjadi Kakak adalah Menjadi Tauladan

        
    Menjadi kakak adalah menjadi tauladan. Karena kakak adalah pemula sehingga tingkah dan lakunya harus bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Apalagi menjadi yang pertama.
            Terkadang bila adik yang salah, tetap saja kakak yang selalu disalahkan.
            Terkadang kakak harus berkorban banyak hal untuk adik-adiknya meski pada akhirnya pengorbanan Sang Kakak terkadang tidak dianggap oleh Sang Adik. Tetapi kakak tidak menuntut karena itu sudah menjadi takdir bahwa dia adalah seorang kakak yang harus melakukan banyak hal untuk adiknya.
           
Adakala kakak rela untuk tidak sekolah karena ingin membantu kedua orangtua dan selanjutnya adiknya saja yang sekolah hingga sukses menjadi orang yang terpandang di kampung. Setidaknya itu bisa membuat Sang Kakak bahagia karena ada adiknya yang sarjana sehingga kedua orangtuanya tidak dipandang sebelah mata di kampung.
            Kakak berkorban banyak hal namun adakalanya adik terlupa bahwa kesuksesannya saat ini salah satunya berkat dukungan kakak.
            Kakak hanya bertani, ke sawah, ke ladang bekerja dengan pakaian yang kotor. Sedangkan adik naik mobil/motor ke kantor dengan pakaian rapi hanya memegang pena dan kertas. Bahakan hanya mengetik di depan komputer. Tapi kakak tetap tersenyum karena itu adiknya.
            Ketika adik pergi ke kota melanjutkan sekolahnya, kakak hanya di rumah menemani ayah dan ibu bekerja banting tulang untuk melengkapi kebutuhan adik di kota.
            Kakak lebih terbiasa hidup keras dan disalahkan meski ia diposisi yang benar. Kakak didik oleh keadaan untuk menjadi yang selalu mengalah. Kakak didik untuk senantiasa berkorban apapun yang dimilkinya untuk adik dan mengutamakan adik dari dirinya sendiri.
            Bila ibu pulang dan membawa sesuatu dan kakak dan adik saling berebut, tentu ibu akan bilang, “Kamu sudah besar, biar buat adik saja,” meskipun usia tidak terpaut jauh dan rasa kekanak-kanakan masih sama, tetap saja kakak dituntut untuk selalu mengalah.
            Ketika adik menjatuhkan minuman kakak lalu kakak memarahi adiknya, Ibu akan berkata, “kamu adik hanya jatuhin minumanmu saja kamu langsung marah, kan bisa diambil lagi. Kamu itu kakak, seharusnya bisa ambil lagi minumnya di dapur,”
            Berbeda ketika kakak yang menjatuhkan minuman adik lalu adik menangis, Ibu akan berkata, “kamu ini gimana? Itu minum adik kok dijatuhin? Adik kan jadi nangis. Di ambil lagi minumnya di dapur lalu ke sini ngasih lagi ke adik,” sembari menyodorkan gelas ke hadapan kakak ibu meminta kakak ke dapur mengambil kembali minum untuk adik. Meski dengan wajah kesal, kakak tetap menuruti perintah ibu untuk ke dapur mengambil minum untuk adiknya.
            Karena kakak adalah pemula maka ia dituntut untuk menjadi contoh. Kakak dituntut untuk bisa menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Maka jangan pernah mengecewakan kakak, wahai dikau adik.
            Adakalanya engkau tak paham bahwasanya ketika engkau pergi meninggalkan rumah, kakak di rumah membantu ayah dan ibumu. Kakak walau sudah besar pun masih tetap disalahkan dan dimarahi karena dia lebih dekat dengan ibu dan ayah sehingga rentan berbuat kesalahan sementara engkau yang jauh selalu dirundu oleh mereka meski engkau mungkin leih banyak berbuat ksalahan yang hanya saja tak nampak oleh ayah dan ibu.
            Untuk itu mari berkaca pada keadaan. Saling menyayangi antara kakak dan adik adalah sebuah keharusan. Dan jangan lupa untuk selalu saling mendoakan hingga dipertemukan kembali di keabadian..
Salam hangat untuk kakak..

Jogja, 22 Juni 2014
Aimien Embisa

Sore hari @Kamar Kos Tercinta