Menumbuhkan Ketenangan di Jiwa
—
Rabu, 04 Februari 2015
—
Renungan
Menumbuhkan Ketenangan di Jiwa
Jika Allah telah menumbuhkan ketenangan di
dalam hati seseorang maka berbahagialah dirinya. Karena banyak sekali orang
yang hidupnya tidak tenang, selalu dihantui oleh kegelisahan dan keresahan di
jiwa.
Bila
seseorang yang hatinya telah tenang maka itulah surga dunia bagi dirinya.
Karena dengan ketenangan di jiwa ia menemukan kedamaian.
Lantas
bagaimanakah untuk bisa menemukan ketenangan di jiwa?
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram". [ar Ra’d/13 : 28]
Sudah cukup jelas apa yang difirmankan oleh
Allah bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram.
Bagaimana
caranya?
1.
Meyakini bahwasanya Allah mengawasi Kita
Dengan meyakini bahwa Allah senantiasa
memantau apa yang kita kerjakan dan Allah selalu ada dalam setiap hembusan
nafas kita. Maka kita akan senantiasa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang
membuat hati kita tidak tenang karena pada hakekatnya yang membuat hati tidak
tenang adalah ketika kita melakukan segala sesuatu yang melanggar norma-norma
agama.
2.
Dengan senantiasa berzikir
Asy Syaikh
Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr -hafizhahullah- berkata; Makna
firman Allah (وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم) adalah
hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan dan kegundahan
dari dalam hati, dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa
keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan. Dan maksud firmanNya (أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) adalah
sudah nyata, dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan
ketentraman, kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3.
Menjaga hubungan baik dengan Allah
Al Imam al
‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sesungguhnya, hati tidak akan
(merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya
berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan melakukan ketaatan
kepadaNya)… sehingga, barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya),
kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya,
kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya”
Fitrahnya
manusia adalah mendabakan ketenangan di jiwa maka dari itu untuk menumbuhkan
ketenangan di jiwa pada hakekatnya adalah menjalankan apa yang menjadi
kewajiban kita sebagai hamba-Nya semaksimal mungkin sebatas kemampuan kita dan
menjauhi secara total segala apa yang dilarang-Nya niscaya engkau akan
menemukan ketenangan itu.
Jogja, 22 Sept 2014
Aimin Embisa
www.fastabiq.com
