Catatan Untuk Mahasiswa Baru
—
Kamis, 14 Juli 2011
—
Cerpen
Hasil SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) baru saja di umumkan. Alhamdulillah aku diterima di jurusan Tekhnik Nuklir Fakultas Tekhnik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berita gembira itu pun langsung kusampaikan pada Ibu. Senyum simpul pun melengkung dari bibir ibu. Namun aku melihat ada sesuatu yang ganjil di wajah ibu. Ada kekhawatiran menyelimuti wajahnya. Perlahan airmata pun turun dari kedua matanya.
Melihat wajah ibu aku dapat membaca kalau berat hati ibu membiarkanku pergi.
Semenjak ayah sakit-sakitan akulah yang sering menolong ibu. Akulah satu-satu
anaknya. Maka ibu akan merasa sepi dengan ketiadaanku. Dengan diterimanya aku
di Universitas Gadjah Mada maka aku harus ke Jogja dan meninggalkan ibu
sendirian merawati ayah di Cikidang, Sukabumi.
“Bu.. Sejauh manapun aku melangkah aku akan selalu mengingat
ibu.”
Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tidak ingin
meninggalkan ibu merawat ayah sendirian tapi disisi lain aku sangat ingin sekolah di Jogja menimba
ilmu di kota education tersebut. Apalagi aku diterima di jurusan yang sangat
aku sukai itu. Karena aku memang pecinta kimia dan aku senang ber-eksperimen.
“Bu, aku meminta keridho’an ibu tuk
mengikhlaskanku pergi Jogja kuliah disana. Tapi kalau ibu keberatan aku akan
kuliah di Sukabumi saja biar setiap minggu bisa pulang jenguk ibu.” Ucapku.
Mendengar ucapanku ibu lalu tersenyum semari
mengusap kepalaku lalu memelukku.
“Nak.. Sebelum kamu meminta izin pada ibu, ibu
telah mengizinkanmu pergi. Karena ibu tahu akan tiba suatu masa dimana kamu
akan dewasa dan meninggalkan ibu. Dan inilah masa itu. Inilah roda kehidupan..
Dalam hidup kebersamaan itu ada batasnya. Ia akan dibatasi oleh ruang dan waktu
sedangkan cinta dan kasih sayang tiada batasannya. Maka pergilah.. Dan kasih
sayang ibu akan menyertaimu dalam do’a-do’a.”
“Bu..
Aku sayang ibu..” Ucapku lirih.
Kini telah tiba saatnya aku harus pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan ibu
yang kusayangi. Ayah yang kubanggakan dan teman-teman yang setia padaku hingga
saat ini.
Sebuah
rangsel telah melekat di pundakku dan kardus kecil yang aku tak tahu isinya apa
ku jinjing di tangan kiriku.
“Ibu aku pergi.. Ayah aku pergi..” Pamitku
semari mencium tangan ayah dan ibu.
“Sebentar nak...” Cegah ibu.
Ibu lalu masuk ke kamar mengambil sesuatu
kemudian keluar membawa sebuah amplop lalu menyisihkannya dalam kantong
kemejaku. Aku bertanya isi amplop itu apa tapi ibu menyuruhku membukanya nanti
kalau sudah jauh dari Sukabumi. Aku pun mengangguk mengiyakannya. Lalu aku
melihat ada butiran bening dimata ibu.
Di depan pak Kartono telah membunyikan clackson
pick up-nya. Tandanya sudah waktunya berangkat. Aku sudah janji ke pak Kartono
tuk ikut pick up-nya ke Bogor kemudian naik KRL ke Jakarta baru naik kereta menuju
jogja. Ku lambaikan tangan pada ibu dan ibu pun membalas dengan senyuman lalu
melambaikan tangannya mengiringi pick up pak Kartono yang terus melaju hingga
jauh.
Di dalam kereta saat dalam perjalanan menuju
Jogja aku mencoba membuka isi amplop yang diberikan ibu tadi. Ada selembar uang
kertas seratus ribu rupiah dan sepucuk kertas berisikan tulisan ibu. Aku lalu
membuka dan membacakannya.
"Nak.. Ketika kamu sudah di Jogja akan
banyak sekali onak dan duri yang akan datang menghampirimu. Maka berjuanglah.
Jadilah yang terbaik untuk dirimu. Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan
selama kamu mampu memertanggungjawabkannya untuk dirimu, tuhanmu dan
orang-orang disekitarmu. Jadilah pribadi yang berguna untuk orang lain. Ketika
disana kamu merasa sedih berwudhulah lalu mendekatlah pada Allah. Ketika kamu
merasa sepi, do’a ibu akan selalu menyertaimu.
Nak.. Jangan pernah meninggalkan tuhanmu walau
sedetik pun dalam hidupmu. Ialah pemilik semesta ini. Maka teruslah
mengingatNya dalam setiap hembusan nafasmu.
Bergunalah engkau bagi bangsa dan negara ini. Sudah terlalu
lama kita hidup dalam ketidakadilan dan ketidakbenaran kepemimpinan. Maka
ubahlah semua itu. Karena masa depan bangsa ini ada di tanganmu sebagai pemuda
yang akan meneruskan semua ini."
Anakku.. Keberhasilan itu bukanlah ketika
engkau melempar toga ke atas sambil berteriak aku lulus akan tetapi
ketika engkau dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kapan pun
engkau kembali, ibu akan tetap menantimu..
Selamat berjuang anakku... Gapailah mimpimu dan janganlah
menyerah hingga kau temukan keinginanmu.
Tetaplah tersenyum walau badai menghadang jalanmu dan iapun
akan tertunduk malu padamu.
Ibu Bangga padamu... "
Aku lalu melipat kembali sepucuk kertas itu dan
memasukkannya ke dalam amplop. Begitu pula uang seratus ribu pemberian ibu. Aku
yakin ibu mendapatkannya dengan susah payah. Aku lalu menarik nafas dalam-dalam
dan menengok keluar jendela. Menatap langit yang begitu cerah hari itu dan
berjanji dalam hati. Aku harus meraih impianku. Suatu saat aku akan kembali
membuktikan pada ibu dan ayah bahwa aku bisa menjadi yang terbaik bagi mereka.
Dan.. Setetes airmata rindu yang pernah ibu
alirkan untukku, akan kubayar saat aku kembali nanti..
Sampai saat ini aku dapat berdiri disini karena
kebesaran Allah yang telah menganugerahiku seorang ibu yang telah mendidik dan
membesarkanku hingga dewasa. Aku akan terus bersyukur dengan semua ini.
Sudahkah kita bersyukur atas apa yang diberikan
Allah pada kita saat ini?? Di luar sana
begitu banyak orang yang bernasip jauh lebih buruk dari kita namun mereka
bersyukur. Mereka tak dapat melanjutkan sekolah tetapi mereka tetap tersenyum.
Semoga
kita tergolong kedalam golongan orang yang pandai mensyukuri segala ni’mat
dari-Nya.
Semangat
Berjuang dan Raihlah asamu….
Departement Syi’ar LDK Jama’ah Shalahuddin UGM
Jogja, 01 Juli 2011
@Maskam UGM
***
Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka penyambutan mahasiswa baru
Universitas Gadjah Mada dan teruntuk seluruh adik-adikku se-Indonesia
yang akan menjadi mahasiswa. Sejauh apapun engkau melangkah janganlah
lupa pada orangtuamu.
Semoga pemuda Indonesia sekarang menjadi
pribadi-pribadi yang berkualitas dan mampu mengubah Indonesia menjadi
semakin baik. Ayo.. Buktikanlah baktimu pada negeri ini..
^_^
