Gaya Nembak Cewek Ala Gua Semasa SMA #part1
—
Rabu, 29 Mei 2019
—
Cerpen
Alkisah, kala itu gua duduk di bangku kelas dua SMA.
Sekolah gua punya program remedial yang artinya kalau nilai loe bulum dapat
seratus, maka loe tetap harus ngulang sampai bisa dapat nilai sempurna. Jadi
walaupun loe dapat nilai 70, atau 90, atau 50, loe tetap diharuskan
menyempurnakan soal yang loe kaga bisa itu.
Nah, nilai Bahasa Inggris gua waktu itu kaga sempurna sehingga terpaksa harus ikut remedial. Saat itu guru gua minta siswanya untuk remedial tapi datang ke rumahnya alias ujian ulangnya di rumah beliau.
Singkat cerita, sore itu hujan tengah gerimis, jalan dan dedaunan pun mulai basah, gua datang pakai sweater hitam nutup kepala berlarian bagai kambing yang takut pada hujan menuju rumah guruku yang tidak begitu jauh dari kediamanku. (Kediaman?)
Lalu, apa hendak dikata, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dari kejauhan gua lihat sosok mahluk berambut panjang duduk di sebuah bangku depan rumah guruku. Gua pun mendekati mahluk yang tengah menunduk itu.
"Hi" Sapa gua sembari membuka penetup kepala sweaterku
Mahluk itu lalu menolehkan wajahnya ke arahku sembari melengkungkan senyumnya...
Subhanallah... baru kali itu gua nemu wanita dengan paras seindah itu. Sontak naluri lelakiku pun mulai bereaksi mencoba mencari simpati dan sekalian mencuri isi hati. Namun karena gua harus ujian jadi gua buru-buru masuk ke dalam rumah dan untungnya gua dikeluarin oleh guru nyuruh nunggu diluar karena ujiannya face to face dengan guru jadi gua nunggu giliran dipanggil. Tentu gua langsung keluar nemuin wanita anggun nan menawan di luar tadi.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya gua sembari nunjukin sebuah kursi di sampingnya dan dia hanya mengangguk ngiyain.
"Oh, ya. Aku Fasta" Gua nyapa sambil ngasih tangan gua. Dan dia pun nyambut tangan gua sambil ngucapin namanya.
"Aku Dinda" singkatnya, lalu kembali menunduk.
Daritadi dia hanya nunduk karena sedang main game di hapenya sehingga sedikit bikin gua kesal karena penginnya diajak ngobrol. Ngelihat dia yang kurang respek gua cari cara agar dia mau ngeladenin gua.
"Kamu kok daritadi senyum sendiri, sih. Stres ya?"
Dia natap gua sambil mengerutkan alisnya.
"Ngomong-ngomong, kamu anak kelas mana? Kok aku gak pernah liat kamu?" Tanya gua
"Aku di sini cuman nemanin kakakku kok. Aku tuh masih SMP."
"Oh, jadi Netty yang di dalam itu kakak kamu? Oh iya, aku tau tentang kamu."
Dia pun mulai tertarik dengan apa yang gua cakap. Dia mulai berhenti memainkan game dan meletakkan handphonenya ke atas meja.
"Emangnya kamu tau apa tentang aku?"
"Ya aku dengar sih kalau Netty punya adik yang namanya Dinda"
"Oh, hanya itu? Kamu katanya cerdas, tapi kok ngulang?"
"Maksud kamu?" Tanya gua keheranan.
"Netty juga sering cerita tentang kamu kok. Katanya kamu cerdas. Tapi kok bisa ngulang ya?"
"Waduh, aku gak cerdas kok, cuman suka bantahin guru aja"
Sejujurnya, gua juga sudah tau tentangnya karena sudah dengar dari teman-teman kalau Netty, teman sekelas gua punya adik yang cakep bangat. Tapi gua belum pernah ketemu orangnya sehingga gak tau macam apa penampakannya. Dan apa yang dibilang itu gak salah lagi. Dia memang cantik. Dan yang bikin gua tertarik adalah penampilannya masuk dalam kategori wanita idaman gua, yakni dia pakai rok dan rambutnya panjang terurai. Dan satu lagi, cara dia ngomong itu manis bangat. Apalagi lihat dia pas lagi kesel, malah makin nyenangin lihatnya. Gua pun maksimalkan kesempatan itu buat semakin dekat dengannya.
"Kamu mau gak? Aku cerita lebih banyak apa yang aku ketahui tentang kamu?" rayu gua.
"Maksud kamu?"
"Ya, aku pengen ceritakan sebenarnya tentang kamu yang aku ketahui dari Netty. Kamu tau gak, sebenarnya kamu itu bukan adiknya Netty. Kamu tuh anak yang ditemukan di Amasing Kali (sungai Amasing, Bacan). Waktu itu lgi hujan rintik-rintik tiba-tiba ayahnya Netty lewat di sungai dengar suara bayi lagi nangis, setalah dekatin ternyata suara itu dari dalam dus yang hanyut jadi diambil terus dibawa pulang. Jadi bisa dikata kamu tuh anak yang terbuang lah."
Ngedengarin cerita gua dia pun kesel tapi sepertinya dia mulai tertarik karena ngerasa gua konyol. Dan ketika masih pengen ngelanjutin ngobrol, kakaknya udah keluar dan giliran gua untuk masuk buat ujian ulang.
Nah, nilai Bahasa Inggris gua waktu itu kaga sempurna sehingga terpaksa harus ikut remedial. Saat itu guru gua minta siswanya untuk remedial tapi datang ke rumahnya alias ujian ulangnya di rumah beliau.
Singkat cerita, sore itu hujan tengah gerimis, jalan dan dedaunan pun mulai basah, gua datang pakai sweater hitam nutup kepala berlarian bagai kambing yang takut pada hujan menuju rumah guruku yang tidak begitu jauh dari kediamanku. (Kediaman?)
Lalu, apa hendak dikata, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dari kejauhan gua lihat sosok mahluk berambut panjang duduk di sebuah bangku depan rumah guruku. Gua pun mendekati mahluk yang tengah menunduk itu.
"Hi" Sapa gua sembari membuka penetup kepala sweaterku
Mahluk itu lalu menolehkan wajahnya ke arahku sembari melengkungkan senyumnya...
Subhanallah... baru kali itu gua nemu wanita dengan paras seindah itu. Sontak naluri lelakiku pun mulai bereaksi mencoba mencari simpati dan sekalian mencuri isi hati. Namun karena gua harus ujian jadi gua buru-buru masuk ke dalam rumah dan untungnya gua dikeluarin oleh guru nyuruh nunggu diluar karena ujiannya face to face dengan guru jadi gua nunggu giliran dipanggil. Tentu gua langsung keluar nemuin wanita anggun nan menawan di luar tadi.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya gua sembari nunjukin sebuah kursi di sampingnya dan dia hanya mengangguk ngiyain.
"Oh, ya. Aku Fasta" Gua nyapa sambil ngasih tangan gua. Dan dia pun nyambut tangan gua sambil ngucapin namanya.
"Aku Dinda" singkatnya, lalu kembali menunduk.
Daritadi dia hanya nunduk karena sedang main game di hapenya sehingga sedikit bikin gua kesal karena penginnya diajak ngobrol. Ngelihat dia yang kurang respek gua cari cara agar dia mau ngeladenin gua.
"Kamu kok daritadi senyum sendiri, sih. Stres ya?"
Dia natap gua sambil mengerutkan alisnya.
"Ngomong-ngomong, kamu anak kelas mana? Kok aku gak pernah liat kamu?" Tanya gua
"Aku di sini cuman nemanin kakakku kok. Aku tuh masih SMP."
"Oh, jadi Netty yang di dalam itu kakak kamu? Oh iya, aku tau tentang kamu."
Dia pun mulai tertarik dengan apa yang gua cakap. Dia mulai berhenti memainkan game dan meletakkan handphonenya ke atas meja.
"Emangnya kamu tau apa tentang aku?"
"Ya aku dengar sih kalau Netty punya adik yang namanya Dinda"
"Oh, hanya itu? Kamu katanya cerdas, tapi kok ngulang?"
"Maksud kamu?" Tanya gua keheranan.
"Netty juga sering cerita tentang kamu kok. Katanya kamu cerdas. Tapi kok bisa ngulang ya?"
"Waduh, aku gak cerdas kok, cuman suka bantahin guru aja"
Sejujurnya, gua juga sudah tau tentangnya karena sudah dengar dari teman-teman kalau Netty, teman sekelas gua punya adik yang cakep bangat. Tapi gua belum pernah ketemu orangnya sehingga gak tau macam apa penampakannya. Dan apa yang dibilang itu gak salah lagi. Dia memang cantik. Dan yang bikin gua tertarik adalah penampilannya masuk dalam kategori wanita idaman gua, yakni dia pakai rok dan rambutnya panjang terurai. Dan satu lagi, cara dia ngomong itu manis bangat. Apalagi lihat dia pas lagi kesel, malah makin nyenangin lihatnya. Gua pun maksimalkan kesempatan itu buat semakin dekat dengannya.
"Kamu mau gak? Aku cerita lebih banyak apa yang aku ketahui tentang kamu?" rayu gua.
"Maksud kamu?"
"Ya, aku pengen ceritakan sebenarnya tentang kamu yang aku ketahui dari Netty. Kamu tau gak, sebenarnya kamu itu bukan adiknya Netty. Kamu tuh anak yang ditemukan di Amasing Kali (sungai Amasing, Bacan). Waktu itu lgi hujan rintik-rintik tiba-tiba ayahnya Netty lewat di sungai dengar suara bayi lagi nangis, setalah dekatin ternyata suara itu dari dalam dus yang hanyut jadi diambil terus dibawa pulang. Jadi bisa dikata kamu tuh anak yang terbuang lah."
Ngedengarin cerita gua dia pun kesel tapi sepertinya dia mulai tertarik karena ngerasa gua konyol. Dan ketika masih pengen ngelanjutin ngobrol, kakaknya udah keluar dan giliran gua untuk masuk buat ujian ulang.
***
Dua hari kemudian, tepatnya hari senin pagi gua lagi duduk berng teman-teman ngobrol di kelas tiba-tiba dari belakang sebuah buku menghantam bahuku. Gua megang bahuku sambil noleh ke belakang ternyata Netty yang mukulin gua.
"Loe ngomong apa sama adik gua kemaren?" tanya Netty.
Gua cuman bisa tertawa dan bilang kalau gua cuman bercanda sama adiknya.
"Ngomong-ngomong, adik loe udah punya cowok belum?" tanya gua
"Ya, gak tau. Nanya aja sendiri sama orangnya."
"Mmm... gimana kalau nanti malam loe ajak adik loe ke pasar malam? Gua pengen ngobrol sama dia." pinta gua sama Netty.
"Gimana ya?" Netty agak mikir tapi kemudian dia mengiyakan ajakan gua. Berhubung kita sudah habis ujian sekolah dan Dinda juga sudah selesai ujian Nasional jadi gak apa, sekalian refreshpikiran.
Dan pucuk dicinta malam pun tiba. Gua udah dandan cakep, pakai minyak nyong-nyong, ratain alis, lihat wajah di cermin miring ke kanan, miring ke kiri, ngambil sweater hitam andalan gua dan langsung starter si Joki buat nganterin gua menuju TKP. Sebelum sampai gua udah nge-text Netty posisi mereka di sebelah mana biar gua samperin.
Saat gua samperin ternyata mereka gak cuman berdua tapi Netty ngajak juga satu keponakannya bernama Dita yang baru saja selesai ujian sebagaimana Dinda.
"Kenalin, Fas. Ini keponakan gua." pinta Netty saat gua samperin mereka yang lagi berdiri menyaksikan penampilan band lokal di atas panggung. Gua pun langsung ngulurin tangan buat kenalan sama keponakannya itu.
"Udah lama nungguinnya?" tanya gua.
"Pake nanya lagi" ngerocos Netty.
"Maaf, ya. Mau ketemu kalian jadi gua mandinya agak lama tadi." gua ngegombal buat ngeredain rasa jengkel mereka.
"Ya udah, gua sama Dita mau keliling dulu, nanti nge-text ya." kata Netty sambil berlalu bersama Dita ninggalin gua sama Dinda. Ternyata Netty paham betul maksut hati gua. Dia sengaja ngajak keponakannya buat nanti nemanin dia jikalau gua pengen ngobrol berdua dengan Dinda.
Rupanya gua gak perlu perkenalan lebih jauh kepada Dinda tentang siapa gua karena Netty udah ceritakan banyak hal tentang gua sama adiknya itu. Tentang bagaimana tingkah gua di sekolah atau di kelas yang suka diskusi sama guru. Atau gua yang sering bertanya dan aslinya agak pendiam kalau diluar kelas.
Gua memang siswa pindahan jadi agak diam diluar kelas dan hanya banyak ngomong sama orang yang udah kenal dekat seperti teman-teman sekelas. Tapi sama Dinda gua langsung banyak ngomong karena entah kenapa rasa ketertarikan gua padanya mengalahkan diamnya gua sama orang yang baru gua kenal. Dan memang untuk beberapa cewek yang bagi gua menarik, pasti gua yang ngajak ngobrol duluan. #ehh
Dan di malam itu, langit nampak begitu cerah, gua narik tangan Dinda mengajaknya mencari tempat yang enak buat ngobrol berdua. Mata gua tertuju pada sebuah bangku di pojok taman. Kita berdua bercerita banyak sembari menatap panggung pementasan dari kejauhan.
"Aku senang loh sama orang yang cerdas." ucap Dinda.
"Oh ya? Sayangnya gua gak cerdas." bantah gua.
"Kata Netty, kamutuh orangnya cerdas. Suka bertanya sama guru, sering berdiskusi."
"Ah, gak semua orang yang senang bertanya itu cerdas kok." bantah gua mencoba meluruskan karena mungkin dia kagak tau kalau tidak semua orang yang sering bertanya berarti cerdas karena tergantung dari kualitas pertanyaan yang diajukan.
Gua pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal apa yang paling disukai olehnya. Dan ternyata dia senang bangat dengan sastra, terutama menulis puisi. Kemudian dia juga suka ngelihat bintang, gunung dan pantai.
Kita berdua terbuai dalam perbincangan hangat yang menunjukan bahwa gua ngerasa nyaman dengannya dan gua dapat merasakan bahwa dia juga nyaman sama gua. Taak terasa malam pun semakin larut, Netty telah datang buat ngajak Dinda balik dan gua pun mulai capek nulis ini... Kita sambung lagi besok untuk part II-nya.
***
@aiminluv
Jogja, 29-052019
@ Kosan Tercinta
Jogja, 29-052019
@ Kosan Tercinta

